Architecture : Sarkasme yang Tidak Seberapa terhadap Rupa Buram Arsitektur Kontemporer di…

Kandang Manusia: Sarkasme yang Tidak Seberapa terhadap Rupa Buram Arsitektur Kontemporer di Indonesia

“Mereka Bermain Tuhan
 Merasa Benar, Menjajah Nalar”
 
(Seringai dalam lagu Mengadili Persepsi)

Mempertanyakan yang “Tidak Bermasalah”

Ketika berkeliling kota Jogjakarta, nampak gedung-gedung mewah nan megah menghiasi. Tidak ketinggalan juga rumah-rumah, baik besar maupun kecil juga ikut berpartisipasi melahap setiap jeda dan sela lahan di perkotaan. Lampu-lampu memandikan kota dengan sorotannya yang tumpul berwarna putih dan kuning keemasan. Penuh dan sesak seakan tak ada secercah ruang untuk manusia bisa bernafas dengan segar.

Semua nampak indah; sempurna dimata jaman. Sebagian besar manusia menumpahkannya dalam kata-kata picisan untuk meromantisir suasana kota seperti itu. Suasana kota yang dianggap maju sesuai perkembangan jaman. Gedung-gedung yang dilegitimasi sebagai representasi dari perkembangan akal manusia di era kontemporer. Sebuah keadaan yang mutlak tercipta sebagai bentuk pengimanan terhadap linearitas kehidupan.

Tak ada yang mempertanyakan, terlebih lagi menggugat keadaan tersebut. Semua setuju dengan konsesus global itu. Cukup mengenaskan dan ironis.

Semua pertanyaan dan ketidak-percayaan muncul setelah menyadari sesuatu hal yang sejauh ini dianggap tidak bermasalah sama sekali. Hal tersebut adalah bentuk-bentuk gedung, rumah, tempat wisata juga perbelanjaan, dan kantor pelayanan publik di kota Jogjakarta yang ternyata mirip satu dengan yang lainnya. Bukan kemegahan dan kemewahan yang terpancar. Justru kebosanan, keganjilan, beserta ribuan pertanyaan yang menghampar.

Keadaan yang membosankan ini ternyata direspon juga oleh salah satu dosen dari ISI (Institut Seni Indonesia) Jogjakarta lewat tulisannya di media cetak. Sumbo Tinarbuko, mendeskripsikan keadaan di jaman ini lewat tulisannya yang berjudul “Sampah Budaya”[1]. Ada berbagai macam sampah budaya saat ini, salah satunya adalah sampah arsitektur.

Bahwa rumah manusia dijaman sekarang lebih mirip pagupon[2] dari pada sebuah bangunan arsitektural. Alasan utamanya karena rumah saat ini hanya berbentuk bujur sangkar (gaya desain yang minimalis) dan itu sama semua dihampir setiap daerah. Terlebih buruk lagi, Sumbo Tinarbuko mengatakan gaya arsitektur tersebut bukanlah ciri khas dari budaya Indonesia. Sekaligus sebuah gaya arsitektural yang dapat merusak lingkungan sekitarnya, seperti salah satunya adalah penipisan ketersediaan air tanah. Layaknya sampah, semua berbentuk sama didaerah manapun. Tidak memiliki nilai seni maupun estetika, murahan, dan disiapkan untuk dibuang.

Jaman dan Kematian Orisinalitas: Memahami Sejarah Arsitektur Indonesia

Dalam rangka memahami arsitektur Indonesia dimasa sekarang, mau tak mau harus melihat dan memahami sejarahnya. Bahkan menilik hingga ke masa yang cukup lampau. Seperti yang dijelaskan oleh Kuntowijoyo dalam karya terakhirnya yang berjudul Penjelasan Sejarah, bawasannya tugas sejarah adalah menafsirkan, memahami, dan mengerti sebuah kejadian (ruang) dalam sebuah kurun waktu tertentu. Kegunaannya adalah untuk menuturkan sebuah gejala tunggal yang kemudian dipahami secara murni sebagai konteks sebuah kejadian.

Ketika bersanding dengan ilmu sosial lainnya, seperti sosiologi, maka sejarah akan memulai aksinya terlebih dahulu dengan “bercerita” secara mendalam, panjang, dan lebar tentang sebuah kejadian dimasa lalu. Dari setiap detail cerita yang dituturkan sejarah, sosiologi memahami keseluruhan kejadian beserta konteksnya (genealogis). Kemudian menarik dalil penilaiannya sebagai bahan dasar pembahasannya. Jadi, sejarah bukanlah ilmu yang kontradiktif dengan sosiologi. Justru menjadi “teman duduk” yang saling melengkapi.

Pembahasan mengenai sejarah arsitektur Indonesia akan dimulai dengan pelacakan pada abad ke-1000 SM. Ketika orang-orang Austronesia mulai mendatangi kawasan yang sekarang diidentifikasi sebagai daerah Indonesia. Pada pengembaraannya, suku Austronesia mulai membentuk beberapa rumah yang ditengarai sebagai cikal bakal arsitektur Indonesia. Alasan utamanya adalah kemiripan dari segi arsitektural dan filosofis bangunan rumah suku Austronesia dengan rumah suku-suku di Indonesia. Ciri-ciri rumah suku Austronesia tersebut dideskripsikan oleh R.P. Soejono[3] dengan bentuk rumah yang terdiri atas bangunan persegi empat, berdiri diatas tiang-tiang, beratapkan ilalang, dan memiliki tangga dari bahan kayu sebagai pintu masuk. Ketika ditelusur lagi, ciri-ciri arsitektural rumah tersebut memang ditemui pada suku-suku Indonesia seperti Batak Toba, Minang, Toraja, dan Dayak. Namun ternyata mengalami beberapa “penyempurnaan” lagi untuk menjadi arsitektur venakular (asli) Indonesia.

Pada landasan filosofisnya, suku-suku di Indonesia meletakan gagasan dasar tentang banguna rumah dari suku Austronesia. Keduanya mengamini bahwa rumah merupakan sebuah struktur perlambanganan dari sebuah kebudayaan. Rumah tidak hanya dimaknai sebagai sebuah tempat yang digunakan hanya untuk tinggal saja. Lebih dari itu, rumah dikenali sebagai perwujudan fisik nenek moyang, perwujudan jatidiri kelompok, dan tempat penyimpanan pusaka dari leluhur. Sampai titik ini, sudah jelas bahwa arsitektur suku Austronesia merupakan “nenek moyang” arsitektur suku-suku di Indonesia.

Setelah mengalami “naturalisasi” secara konteks kedaerahan, akhirnya arsitektur Indonesia menemukan jatidirinya sendiri. Gaya arsitektur venakular Indonesia tidak sepenuhnya terfragmentasi, namun tetap memiliki beberapa keterkaitan yang melambangkan jati dirinya secara umum. Ciri khas pertama dari arsitektur Indonesia adalah fondasi tiang dasar yang dinaikan. Namun tidak ditanam di dalam tanah, melainkan hanya dilekatkan diatas sebuah batu.

Tujuan utama penaikan fondasi tiang dasar adalah kegunaannya untuk menyesuaikan rumah dengan kondisi iklim dan geografis. Ketika banjir dan lumpur datang dissat hujan deras turun, rumah akan selamat dari terjangannya, karena tiang fondasi yang tinggi dan juga kokoh. Selain itu, ketika cuaca sedang berada ditemperatur yang cukup tinggi, kolong dari rumah tersebut berfungsi untuk masuk keluarnya angin, maka suhu didalam rumahpun bisa turun dan menjadi lebih sejuk. Lebih fantastis lagi, dikala terjadi bencana alam didekat rumah, warga bisa bekerja sama untuk memindahkan rumah dengan cara diangkat ke lokasi yang diinginkan.

Ciri arsitektur Indonesia berikutnya adalah pemanjangan bumbugan atap. Secara fungsional, pemajangan bumbungan atap memang nihil, tak berguna apapun. Karena kehadirannya bukan semata-mata fungsi praktis. Melainkan lebih kepada segi estetis. Nampak jelas ketika menilik rumah-rumah adat dari daerah Sumba, Toraja, Jawa, Batak Toba, Minang, hingga suku Dayak. Salah satu contohnya atap dari sebuah suku di daerah Sumba. Warga percaya bahwa pemanjangan bumbungan atap secara vertikal merupakan perlambangan puncak-puncak keramat kesukuan. Saking di-keramat-kannya, terkadang warga tersebut lebih memilih tidur di luar dari pada di dalam rumah.

Ciri umum yang ketiga adalah bahan bangunan yang berasal dari keaneka ragaman hayati (alam). Dalam pembuatan kerangka rumah, bahan utamanya tentulah menggunakan kayu yang ada di sekitar daerah rumah. Tidak berhenti disitu saja, dinding dan atap rumah juga tidak ketinggalan dalam pemanfaatn kekayaan hayati. Bahan-bahan yang biasa digunakan dalam pembuatan dinding dan atap adalah kayu, bambu, daun palem, rumput ilalang, dan serat tanaman. Biasanya, atap dan dinding dibuat dengan model anyaman.

Itulah beberapa ciri khas aritektur venakular Indonesia. Tersirat jelas betapa kebijaksanaan manusia dalam mengolah kehidupan sehari-harinya. Tidak diragukan lagi, kedekatan manusia dengan alam dan pemanfaatan potensi sekitar dengan baik dan benar merupakan ciri khas manusia di jaman itu. Pada sebuah jaman yang digolongkan dalam pakem terminologi “tradisional” dalam tradisi arsitektur Indonesia.

Arsitektur venakular Indonesia masihlah “perawan”, setidaknya sampai pada abad ke-8 masehi. Kedatangan orang-orang baru ke Indonesia dengan membawa agama Hindu dan Budha membawa dampak besar bagi gaya arsitektur Indonesia. Arsitektur Indonesia suka tak suka haruslah melakukan evolusi yang merupakan bentuk reaksi terhadap perubahan agama, politik dan kecenderungan umum manusia. Begitulah terang Josef Prijohutomo, seorang dosen Arsitektur Institut Teknologi Surabaya, yang menegaskan jaman Hindu Budha ini sebagai gaya arsitektur “klasik” Indonesia.

Karakteristik pertama dan yang paling mendasar bagi arsitektur jaman klasik adalah bahan bakunya pembuatannya yang tidak lagi menggunakan kayu. Namun menggantinya dengan bahan baku batu. Sebuah pergantian yang cukup berbeda jauh. Alasan utamanya adalah masalah keawetan. Bahan baku kayu memang terbilang awet, namun usianya hanya sejauh 100 hingga 150 tahun. Sedangkan bahan baku dari batu, nampaknya bisa dikatakan sebagai bahan baku “abadi”, karena bisa bertahan hingga detik ini.

Karateristik yang kedua adalah menggunakan punden berundak. Sebuah konstruksi yang mirip dengan tangga, namun punden berundak lebih lebar dan lebih panjang. Terakhir, arsitektur jaman klasik ditandai dengan hiasan-hiasan dinding batu yang sering didengar dengan sebutan relief. Sebuah perwujudan ekspresi dan estetika dari manusia dijaman Hindu Budha.

Ketiga ciri tersebut mengerucut pada sebuah model bangunan yang sampai kini masih sering dijumpai. Dialah banguna candi yang menjadi monumen representasi warisan arsitektur Indonesia jaman klasik. Sebuah bangunan yang jamak dijumpai sebagai perlambangan tempat ibadah dan pemujaan terhadap para dewa di jamannya. Meskipun hingga saat ini masih sering ditemui ritual-ritual keagamaan yang dilaksanakan di berbagai candi, namun lebih sering masyarakat menggunakannya sebagai tempat wisata dan pertunjukan. Seperti halnya pada candi Prambanan, Borobudur, Ratu Boko, dan lain semacamnya.

Meskipun artefak-artefak monumental periode klasik masih bisa dijumpai hingga saat ini, bukan berarti Indonesia saat ini masih berkutat pada periode arsitektur klasik. Setidaknya periode klasik bertahan hingga akhir abad ke-15 masehi. Keruntuhan kekuasaan Majapahit, serta berkembangnya berbagai kerajaan Islam seperti kerajaan Demak, memberikan perubahan juga terhadap arsitektur Indonesia. Lagi, arsitektur Indonesia dipaksa untuk berevolusi kembali menyesuaikan dengan jaman.

Perubahan-perubahan arsitektural yang berada dibawah periode Islam tidaklah sedrastis perubahan dari masa tradisional ke klasik. Sejumlah bangunan masih menggunakan bahan baku batu. Pada periode ini juga, arsitektur venakular kembali diintrodusir dalam berbagai macam bentuk penyesuaian. Berupa altar-altar kerajaan, balai-balai pertemuan, maupun beberapa masjid yang mulai dibangun pada saat itu. Bahan baku kayupun kembali digunakan sebagai pembentuk rangka bangunan.

Perbedaan menonjol dari jaman klasik dan jaman Islam adalah pergantian pusat ritual keagamaannya. Pada jaman klasik berbagai macam candi menjadi pusat “kehidupan beragama” dimasyarakat. Seiring dengan masuknya ke jaman Islam, pembangunan tempat ibadah diberbagai lokasi bertujuan menggeser paradigma ritus keagamaan dari candi menuju ke masjid.

Peninggalan terbesar jaman arsitektur Islam adalah mulai dibangunnya “kawasan terpadu” yang diidentifikasi sebagai cikal bakal kawasan perkotaan. Kawasan tersebut dibagi menjadi dua, yaitu pusat dan pinggiran. Pada daerah pusat, terdapat Keraton (kerajaan), Masjid (tempat ibadah), dan alun-alun sebagai sarana publik. Lokasi pusat, terutama Keraton, dianggap sebagai tempat yang penting dan sakral bagi seluruh warga. Sehingga tidak boleh sembarang orang diperbolehkan untuk masuk. Daerah yang disebut dengan pinggiran merupakan tempat tinggal para kaum non-bangsawan, seperti para budak dan warga biasa.

Belum sempat “beristirahat” setelah beradaptasi sesuai situasi dan kondisi di jaman arsitektur Islam, arsitektur Indonesia harus kembali menguras tenaganya untuk menikah dengan arsitektur khas Eropa. “Pernikahan” tersebut terjadi kira-kira pada abad ke-17 masehi. Tepat saat para bangsa Eropa seperti Belanda, Portugis, Spanyol datang ke Indonesia, arsitektur khas Eropa mulai diperkenalkan ke warga Indonesia. Masuklah Indonesia kedalam periodesasi arsitektur Hindia Belanda.

Perubahan secara arsitektural terjadi ketika Belanda mulai mendirikan pos dagang di Batavia, Semarang, dan Ujung Pandang. Pos dagang tersebut berwujud benteng bertembok tinggi, yang dimaksudkan agar keadaan perdagangan didalamnya aman dari serangan dan pemberontakan warga lokal. Setelah perdagangan dirasa semakin maju dan terus menguntungkan, pihak Belanda ingin memperluas daerah “kekuasaan” perdagangannya. Yaitu dengan cara membangun kawasan perkotaan beserta berbagai macam infrastruktur didaerah pos perdagangan. Perluasan kekuasaan dagang tersebut dimanifestasikan dalam bentuk kongsi dagang yang populer disebut VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie)

Pembangunan infrastruktur dibawah komando kolonial Belanda, memaksa masyarakat untuk membangun berbagai gedung sesuai dengan keinginan pihak Belanda. Tidak lain dan tidak bukan dengan gaya klasik Eropa. Secara lebih egois lagi, pembangunan gedung dengan gaya klasik eropa tersebut merupakan keinginan dari para pejabat VOC yang rindu pada kampung halamannya. Sehingga dengan pembangunan tersebut, para pejabat VOC serasa ingin mendapatkan situasi dan nuansa dari tempat asal mereka.

Gaya khas arsitektur klasik eropa pada umunya cenderung panjang dan sempit, atap yang dibuat curam, jendela dengan ukuran yang besar dan dinding depan bertingkat. Struktur yang dibangun memang relatif tinggi dan kokoh, juga tertutup. Struktur tersebut memang digunakan di Belanda untuk menghindarkan dari cuaca dingin yang ekstrim sata musim salju. Ketika masuk ke Indonesia dengan iklim yang tropis, arsitektur klasik juga mengalami sedikit penyesuaian dengan kondisi lapangan. Yaitu dengan membuat halaman depan rumah lebih terbuka dan terkadang menggunakan atap limasan bergaya jawa. Selebihnya, seperti hiasan pintu, jendela, dan dinding kokoh tetaplah nuansa-nuansa asli Eropa.

Alhasil, peninggalan arsitektural jaman Hindia Belanda sampai sekarang masih bisa ditemukan dan dinikmati nuansanya. Beberapa diantaranya terletak didua kota besar di Indonesia. Yaitu kawasan Kota Tua di daerah Jakarta, dan kawasan Kota Lama di daerah Semarang. Lokasi tersebut masih kental dengan aroma arsitektur khas Klasik Eropa. Seperti yang terlihat di daerah kawasan Kota Lama Semarang, ada dua bangunan yang menjadi ikon kawasan tersebut. Pertama adalah Gereja Blenduk yang beratapkan kubah besar dan sepasang lonceng gereja khas arsitektus bergaya Binzantium[4]. Juga Stasiun Tawang yag memadukan unsur Eropa dengan kedaerahan Indonesia.

Yuswadi Saliya dan Sandi Siregar[5] menjelaskan bahwa periode arsitektur Hindia Belanda mulai mengalami pergeseran disekitar tahun 1950. Secara internal, pergeseran tersebut tidak lepas dari kondisi politik dan ekonomi Indonesia yang mulai berpindah haluan semenjak pernyaataan kemerdekaan pada tahun 1945. Dalam konteks yang lebih luas, pergeseran tidak lepas dari perkembangan dunia arsitektur interasional yang sedang booming dengan gaya arsitektur modernisme.

Ketika Indonesia memasuki masa orde baru dibawah kepemimpinan Soeharto, keran perdagangan asing dibuka seluas-luasnya. Pakem pemikiran sebagian besar manusia di Indonesia juga berubah haluan. Semula yang condong kearah sosialistik, berpindah tempat pada haluan liberalistik. Alhasil, gaya arsitektur Indonesia kembali mengalami penyesuaian puncak pada sekitar tahun 1970an. Kali ini menyesuaikan diri akibat responnya terhadap konsesus global. Penyesuaian diri terhadap gaya modernisme, yang dikenal luas dengan istilah internasional style.

Gaya arsitektur internasional ini dipicu oleh kehadiran industri. Perkembangannya tentu menjadi sangat cepat dan signifikan, dikarenakan bahan baku pembuatan gedung dan bangunan semuanya diciptakan oleh mesin-mesin pabrik. Para arsitek pendukung modernisme, seperti Viollet-le-Duc, berpendapat seni dan konstruksi dapat dikembangkan dengan lebih baik dalam produksi pabrik. Gaya arsitektur internasional lebih mementingkan fungsionalisme dalam konteks ekonomis dalam penciptaan arsitektur. Gaya ini dianggap sebagai gaya perlawanan dari arsitektur klasik yang terlalu banyak memakain ornamen dan hiasan. Sehingga pada gaya internasional tidak terlalu memakai hiasan maupun ornamen. Gaya arsitektur ini cenderung sangat simetris, sangat universal, dan membosankan.

Arsitektur bergaya internasional tersebut yang hingga pada masa kini masih menancapkan dominasinya di Indonesia. Sebagian besar bangunan secara jelas tertangkap mata merupakan arsitektur yang sangat simetris, tinggi menjulang, sangat minim hiasan maupun pernak-pernik, dan mampu menampung banyak manusia didalamnya (efisien dan efektif). Paling maksimal, hiasan yang ada hanyalah bertemakan kebudayaan. Sebuah hiasan yang hanya digunakan sebagai pemanis saja. Tidak lebih. Dimulai dari bangunan yang paling “privat”, yaitu rumah hingga bangunan bagi publik layaknya pusat perbelanjaan dan kantor-kantor pemerintahan. Semua bergaya arsitektur internasional, nyaris tidak ada perbedaan signifikan.

Penuturan panjang lebar dari sejarah arsitektur mampu memberikan sebuah gambaran yang cukup bagus antara ruang dan waktu. Setiap kejadian pasti memiliki periode dan konteksnya sendiri. Dalam hal arsitektur Indonesia, setiap jaman mampu menceritakan dasar-dasar perubahannya sesuai dengan konteks keadaan masyarakat. Mulai dari jaman tradisional hingga jaman modern, selalu memiliki keterikatan antara ruang dan waktu.

Ketika memahami dongeng dari sejarah arsitektur Indonesia, ada sebuah dalil dan keberpihakan yang bisa ditegakan. Setiap jaman dan perubahan nampaknya mampu memberikan “pembunuhan” terhadap orisinalitas arsitektur Indonesia. Baik itu pembunuhan yang berada tataran morfologis, seperti pembunuhan karakter dan lokasional. Hingga pembunuhan yang paling esensial, ketika arsitektur Indonesia sudah tidak mengenal cikal bakalnya sendiri. Tidak otentik; asing dengan dirinya sendiri.

Idealitas Arsitektural: Ruang dari Rahim Proxemics dan Tactility

Sebuah kegiatan bukanlah hal yang omong kosong. Dibalik kegiatan tentu menyimpan sebuah misi, baik yang tersirat maupun yang terucapkan secara langsung. Setiap hal pasti memiliki tujuan tertentu; apapun itu.

Dalam konteks berasitektur, tidak mungkin seseorang membangun gedung tanpa ada tujuan. Tujuan berarsitektur inilah yang pantas diberikan sorotan. Tujuan apa yang hendak dicapai? Apakah ingin mendirikan bangunan sebagai bentuk manifestasi akal budi? Atau hanya sekedar ingin menjadi “saptiteng” manusia?

Secara dangkal, dapat dikatakan tujuan arsitektur adalah membentuk sebuah ruang bagi manusia. Lebih dari itu, ruang dipandang bukan hanya sebagai sebuah tempat bagi penampungan manusia semata layaknya septiteng. Romo Mangun (Y.B Mangunwijaya) mengungkapkan pentinganya pemaknaan penciptaan ruang dalam arsitektur. Bahwa ruang dalam sebuah bangunan bukanlah media yang menjadi pemisah manusia (yang fisik) dengan dunia rohani. Justru ruang harus dimaknai sebagai perwujudan dari penggabungan antara yang fisik dengan yang rohani. Layakanya manusia, ada dua bagian yang tak terpisahkan. Ialah jiwa dan tubuh. Ketika tubuh berperilaku, maka jiwa dengan akal budinya yang menjadi dinamo dari tubuh tersebut. Perilaku tubuh mencitrakan jiwa manusia. Keduanya tidak mungkin terpisah, karena jika terpisah yang tersisa hanyalah seonggok omong kosong.

Sejalan dengan pemaknaan tersebut, Romo Mangun memberikan penjelasan secara filosofis dari percikan pemikiran filsuf asal Prancis, A. Merlau-Ponty:

Tubuh adalah kendaraan kehadiran kita di dunia. Untuk mahluk yang hidup, memiliki tubuh berarti bergumul di dalam suatu lingkungan tertentu, berhadapan dengan hal-hal tertentu dan melibatkan diri dengannya tanpa henti. Tubuh dalam arti mulia adalah ruang yang mengungkapkan diri.

Dari secarik kata-kata tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan. Bahwa pemaknaan akan sebuah tubuh (ruang) bukanlah hanya sekedar tempat jiwa berdiam dan menuruti berbagai macam aturan dari luar. Namun menjadi sarana akal budi manusia untuk berekspresi, bertingkah laku, dan berbuat. Karena manusia adalah mahluk hidup yang berjiwa dan berakal budi, bukan zombie.

Dalam rangka menyatukan antara yang fisik dan yang rohani sebagai tujuan pemaknaan ruang dalam arsitektur, David Hutama[6] menerangkan perlunya pembuatan sebuah jembatan. Karena pada proses penciptaannya, ruang pada arsitektur tidak lepas dari keterkaitannya pada dimensi sosial, politik, budaya, dan ekonomi dimana ruang tersebut diciptakan. Jembatan tersebut adalah Proxemics[7]. Pemahaman akan Proxemics bagi arsitektur memberikan sebuah kemampuan untuk memahami dan menerjemahkan kebutuhan manusia yang bersifat abstrak. Sebuah pemahaman yang mendalam terkait kemunculan dunia abstrak manusia beserta dengan konteks kemunculannya.

Hall menjelaskan bahwa tradisi kebudayaan selalu muncul dari kehidupan sehari-hari. Terkait dengan tata cara, kebiasaan lisan maupun tulisan, juga latar belakang seperti etnisitas. Hasilnya, tradisi kebudayaan membentuk cara berpikir seseorang yang berbeda-beda tergantung konteks tempatnya. Proxemics berdiri untuk menerjemahkan tradisi kebudayaan manusia yang berada dalam dunia ide. Untuk kemudian mencurahkannya pada arsitektur sebagai alat untuk membentuk dan mengumpulkan rancangan pertimbangan dalam rangka perwujudan ruang dalam kondisi fisik. Maka dari itu bisa dipahami mengapa bangunan arsitektur (seharusnya) berbeda disetiap daerahnya.

Setelah memahami konteks raung arsitektur dari Proxemics, beranjak pada pemahaman segi estetika pada ruang arsitektur dari Tactility. Sebuah ilmu yang menganggap bahwa pengalaman manusia dibentuk dari kelima panca indera yang dimiliki. Seperti mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, kulit untuk merasakan tekstur, dan macam sebagainya.

Ketika bersanding dengan Tactility, arsitektur mendapatkan kekuatan untuk menciptakan konstruksi ruang dengan pengalaman yang dimiliki oleh manusia. Penentuan penggunaan sebuah model arsitektur, lantai, peletakan jendela, desain ruangan, luas bangunan, hingga ornamen sebagai sebagai nilai estetika dalam penciptaan ruang sangat dipengaruhi oleh pengalaman arsitek yang mendesiannya. Pengalaman tersebut dibentuk melalui Tactility dan diterjemahkan dalam proses pendesainan.

Sebuah bentuk dari ruang dalam arsitektur secara ideal sudah didapatkan dengan begitu jelas dan menawan. Ketika ruang dimaknai mendalam sebagai sarana berekspresi bagi manusia, layaknya tubuh manusia itu sendiri. Bukan seperti septiteng yang hanya berfungsi menampung ampas semata. Pada proses perancangan ruang, konteks tradisi kebudayaan dan pengalaman sangat berperan penting.

Kesadaran manusia akan setiap pengalaman dan konteks kebudayaan akan mempengaruhi penciptaan ruang tersebut secara total. Sehingga, sudah seharusnya bangunan arsitektur menjadi berbeda di setiap daerahnya, tergantung kondisi iklim, geografis, psikologis, filosofis dan sosialnya. Ruang yang diciptakanpun juga sudah seharusnya memiliki bentuk-bentuk yang berbeda secara gaya dan nilai estetika. Tidak mungkin sama semua disetiap tempat.

Secarik Ornamen Buram: Mengintip Arsitektur Indonesia dari Banjarmasin dan Maluku Tenggara Barat

Pada daerah perkotaan di pulau Jawa, sebagian besar bangunan dan gedung memiliki gaya yang sama. Bangunan rumah melakukan penyembahan kepada gaya Internasional nan minimalis. Serba simetris, simpel, dan universal. Gedung-gedung pencakar langit juga tidak jauh beda. Pengimanan pada gaya Internasional tetap berlangsung hikmat. Kaca-kaca gedung terpampang seakan-akan elegan, nilai simetris dalam ruang bujur sangkar yang tak ada kata lain, membosankan. Ornamen estetika hanyalah penarik masa dibidang interior gedung saja.

Indonesia bukanlah pulau Jawa saja. Namun terdiri dari gugusan beribu kepulauan yang menghampar. Pelacakan rupa arsitekturpun juga harus dilakukan ke berbagai daerah lain. Dua diantaranya adalah kota Banjarmasin di Provinsi Kalimantan Selatan. Serta kabupaten Maluku Tenggara Barat, tepatnya di Pulau Selaru, Desa Kandar.

Pemilihan kedua tempat tersebut bukan serta merta pengacakan asal semata. Namun lebih pada sebuah pengalaman yang didapatkan secara langsung. Satu daerah diperkotaan yang terbilang jaman sebagai sebuah daerah yang dikategorikan “maju”. Sekaligus menjadi ibukota provinsi dari Kalimantan bagian selatan. Daerah yang kedua merupakan pengalaman yang didapat selama masa KKN (Kuliah Kerja Nyata) tahun 2014. Sebuah daerah yang berada di tapal batas Indonesia, yaitu di pulau terakhir sekaligus pulau Indonesia yang berada paling dekat dengan wilayah benua Australia. Jika jaman harus menghakimi, daerah ini bolehlah mendapatkan hadiah terminologi sebagai daerah “pedalaman”.

Tanah di pulau Kalimantan berbeda dengan tanah yang berada di pulau Jawa. Pulau Kalimantan beralaskan tanah gambut, maka itu sering didengar istilah lahan gambut. Sebuah tanah yang secara kontur tidak padat. Karena pada bagian dasar bukanlah tanah padat ataupun batuan layaknya di pulau Jawa. Namun gumpalan campuran air dan tanah rawa, sekilas mirip dengan lumpur.

Perbedaan fisik yang mendasar tersebut menyebabkan perbedaan pula pada teknik konstruksi bangunan. Pondasi beton dan cor tidak bisa tahan lama menghadapi kelembaban tanah yang begitu tinggi. Pastilah lapuk karena kandungan air yang tidak juga sedikit. Menyiasati keadaan tersebut, masyarakat Banjarmasin memiliki solusinya tersendiri. Sedari ratusan yang lalu masyarakat menggunakan kayu Ulin dan Balam sebagai fondasi rumah mereka. Penggunaan kedua kayu tidak lepas dari kemampuan kayu yang mampu beradapasi dengan baik pada tanah gambut. Semakin lama kayu yang ditanam sebagai pondasi justru semakin bagus dan semakin kuat. Harga dari kedua kayu tersebut juga relatif lebih murah dibanding dengan biaya cor dan beton.

Ketika mengikuti nalar jaman, mengonsumsi barang dengan harga yang lebih murah tentu saja sebuah “keharusan”. Terlebih lagi jika memiliki dampak yang dirasa menguntungkan. Setidaknya hukum tersebut tidak berlaku bagi dunia rupa arsitektural di Banjarmasin. Terlihat jelas pada sebagain besar pembangunan rumah masyarakat Banjarmasin yang ternyata lebih memilih menggunakan cor beton dengan sedikit tambahan kayu ulin dan balam.

Sebuah pertaruhan yang sangat beresiko. Mengingat fondasi bangunan yang sewaktu-waktu bisa roboh karena kikisan lahan gambut yang menggenangi setiap harinya. Dalih yang digunakan masyarakat adalah dengan cara mengeruk tanah kering dan bebatuan di atas lahan gambut. Sehingga menganggap fondasi yang dibangun dirasa lebih aman dan lebih awet.

Disatu sisi, penggunaan kayu ulin dan balam sebagai fondasi rumah justru diterapkan pada masyarakat yang berada dipinggiran sungai-sungai di Banjarmasin. Masyarakat pinggirian kali memanfaatkan kedua kayu tersebut tidak hanya sebagai fondasi rumah saja. Namun juga sebagai dinding dan lantai rumah. Ketika ditelaah lebih jauh, masyarakat yang hidup dipinggiran sungai perkotaan adalah mereka yang secara ekonomi formal terbilang “rendah”.

Beralih dari Indonesia bagian tengah menuju pada bagian timur. Mari menilik sodara setanah air di negeri Maluku. Tidak hanya memandang daerah timur sebagai daerah “eksostis” untuk dieksploitasi kekayaan dan panorama alamnya. Terlebih ketika memandang pesona fisik Indonesia timur tanpa memperdulikan kehidupan masyarakat daerah tersebut yang bertubi-tubi mendapat cap sebagai orang-orang yang “kejam dan menakutkan”. Apa bedanya dengan orientalisme?

Lebih dalam bercumbu dengan daerah timur. Sebuah pengalaman tentang rupa arsitektur tak luput menjadi perhatian. Didaerah pantai yang cukup panas dan terik namun tidak gersang. Disebuah daerah yang dasarnya bukan tanah padat bukan juga gambut, namun tanah karang. Didaerah yang mana teminologi “Indonesia” seakan buram ditelan jarak dan kedalaman. Inilah desa Kandar, Maluku Tenggara Barat.

Konteks tempat yang cukup panas dan gersang disiang hari. Ketika malam tiba, gemuruh angin tak segan mengguncang atap-atap rumah. Kaca jendela rumah disetiap gang desa tak juga luput dari jumawanya. Sebuah keadaan yang cukup bertolak belakang ketika siang dan malam hari. Mau tak mau, masyarakat harus bisa menyesuaikan keadaan tersebut dengan kondisi fisik. Salah satu medianya adalah penyesuaian rupa arsitektur rumah.

Periode KKN (Kuliah Kerja Nyata) berjalan pada bulan Juli hingga Agustus 2014. Ketika itu desa memasuki masa transisi. Diawal kedatangan masih musim hujan, dalam sehari beberapa kali hujan turun. Namun memasuki waktu-waktu akhir, desa memasuki masa awal musim panas. Sehingga dapat menyaksikan bagaimana arsitektur bagunan rumah dalam memamerkan kemampuannya.

Rumah masyarakat di desa Kandar menggunakan fondasi dan tembok yang terbuat dari karang yang disemen. Sehingga tidak nampak perbedaan yang jauh dengan pemukiman di daerah Jawa. Hebatnya, masyarakat tidak usah membeli batuan karang, cukup mencangkul dan memecahnya dari lahan yang mereka pijak seharinya. Sehingga sudahlah sesuai teknik konstruksi dengan konteks dan kontur alasnya.

Namun ketika siang hari terik, suasana di dalam rumah terasa cukup panas dan gerah. Tidak lain dikarenakan sebagain besar masyarakat menggunakan asbes dan seng sebagai atap rumah. Dikala malam hari ataupun sedang hujan, atap asbes dan seng juga gagal menyesuaikan dengan kondisi sekitar. Sehingga dingin yang dikarenakan angin kencang dari lautan cukup terasa hebat.

Alasan masyarakat sekitar menggunakan asbes dan seng sebagai atap adalah harganya yang relatif murah dan tahan lama hingga 10 tahun lebih. Berbeda jauh dengan jaman ketika masyarakat belum mengenal asbes maupun seng. Yaitu pada masa sebelum tahun 2001. Rumah warga masih menggunakan atap yang terbuat dari anyaman daun rumbia. Sebuah daun yang berasal dari tanaman coli khas daerah Maluku Tenggara Barat.

Ketika menggunakan atap hasil anyaman dari daun rumbia, sekitar 3 tahun selalu ada biaya tambahan untuk sekadar menambal bagian yang rusak atau memberi tambahan anyaman. Juga biaya pembuatan yang memakan biaya cukup besar karena dibuat dalam jangka waktu berhari-hari dengan jasa manusia yang diganti dengan imbalan.

Atap berbahan daun rumbia cukup dianggap masyarakat sebagai karya yang “merepotkan”. Jelas lebih ekonomis atap yang menggunakan asbes dan seng. Tidak perlu biaya perawatan dan perbaikan di setiap 3 tahunnya. Bahkan ada warga yang mengaku sudah memasang atap asbes dari tahun 2001 hingga tahun 2014 belum ada sama sekali kerusakan sedikitpun.

Sorotan tajam ditujukan pada penuturan masyarakat tentang perbandingan atap berbahan asbes dan daun rumbia dalam konteks kenyamanan. Seperti yang dijelaskan diatas, bawasannya atap berbahan asbes tidak memiliki kemampuan yang cukup bagus untuk menyesuaikan diri dengan kondisi iklim dan geografis. Sedangkan atap berbahan daun rumbia menunjuukan hal yang bertolak belakang.

Daun rumbia mampu menyerap panas yang dipancarkan dari luar ruang. Sehigga suhu dan suasana didalam rumah cukup normal bagi tubuh manusia. Ketika hujan, air tidak akan menenmbus, karena anyaman yang tebal dan licinnya permukaan daun mampu membuat air mengalir. Disaat memasuki malam hari, daun rumbia mampu menyerap suhu dingin akibat angin laut. Sehingga didalam rumah akan terasa hangat bagi tubuh manusia.

Lengkap sudah usaha untuk mengintip sedikit celah rupa arsitektur Indonesia dimasa sekarang. Dari mulai daerah yang dipercayai sebagai “perkotaan” menuju daerah yang dilegitimasi eksostisitas di “pedalaman”. Dibuka dari menilik segi konstruksi bangunan pada bagian dasariah, yaitu fondasi, menuju bagian paling atas pada bangunan rumah yang berfungsi memberikan kenyamanan dan perlindungan bagi sang empunya.

Penjajahan Nalar Manusia sebagai Konsekuensi Modernitas: Sebuah Kritik yang Tidak Seberapa terhadap Arsitektur Indonesia Kontemporer

Melihat realitas rupa arsitektur Indonesia yang dipahami dari 3 tempat. “Pengintipan” secara mendalam di kota Banjarmasin dan di kabupaten Maluku Tenggara Barat, serta pengalaman secara general di daerah Jawa sudah mampu memberikan kesimpulan kecil. Bawasannya arsitektur kontemporer di Indonesia sudah gagal dalam usaha mewujudkan idealitasnya dalam proses merupa. Demi mengikuti logika internasional, tanah gambut dipaksakan konstruksi cor dan beton. Demi mengikuti hukum ekonomis yang sangat mengedapankan efisiensi dan efektifitas, atap rumah rela diganti asbes dan seng meskipun tidak memberikan kenyamanan secuilpun. Demi menjadi sama dengan dunia barat yang dianggap maju, setiap bangunan rela dibangun dengan helatan simetris dan tanpa ornamen sedikitpun. Demi menjadi modern dan dianggap maju, semua rela diseragamkan.

Semua mengingkari benih-benih yang ditanam pada rahim Proxemics dan Tactality. Idealitas rupa berubah menjadi idealitas global dengan paradigma ekonomisnya. Tidak ada kata yang lebih pantas selain apa yang dikatakan band cadas asal kota Jakarta, Seringai dalam lagunya yang berjudul “Mengadili Persepsi”, bahwa “mereka” memainkan “tuhan” demi penjajahan nalar manusia.

Modernitas yang dipantik dengan kelahiran dan persebar-luasan industri nampaknya telah merubah setiap sisi kehidupan dan pemikiran manusia. Bahkan menembus hingga daerah yang tidak terjamah oleh gema dari Adam Smith, Keyness, maupun Marx. Realitas hari-hari ini tidak ubahnya sebagai kenyataan-kenyataan palsu.

Salah satu kenyataannya terjadi dalam bidang arsitektur di Indonesia. Setiap mereka selalu percaya bahwa gaya desain internasional merupakan yang terbaik dan termutakhir dimasa sekarang. Para pengintrodusir ilmu perancangan dan pendesainan bangunan tak ubahnya menggunakan ilmu mereka sebagai legitimasi layaknya tuhan dalam rangka usaha untuk pendisiplinan serta penjajahan nalar manusia. Semua diseragamkan, bahkan hingga hakikat manusia yang paling hakiki, yaitu nalar. Secara langsung, penjajahan nalar berarti penjajahan juga terhadap nilai kemanusiaan. Karena manusia tidak lagi memiliki kesadaran kritis akan kehidupannya sendiri, melainkan hanya tunduk dan patuh pada konsensus-konsensus global yang vulgar tanpa keharusan untuk mempertanyakan, terlebih lagi menggugat.

Keberhasilan agenda untuk mengintrodusir international style dibidang arsitektur pada setiap penjuru tidak lepas karena pakem pemikiran manusia modern yang terkungkum dalam logika saintifik a’la Charles Darwin. Para punggawa arsitektur internatitonal style patut berhutang budi pada logika dari teori evolusionismenya. Kungkuman pemikiran tersebut menganggap bahwa gaya desain internasional merupakan tahapan perkembangan paling mutakhir dalam dunia arsitektur. Berawal dari arsitektur yang dikategorikan kuno, klasik, pencerahan, hingga bentuk yang dikatakan sebagai tahap paling sempurna, modern dengan gaya internasional yang simetris.

Modernitas sebagai sebuah tahapan yang termutakhir dari sejarah panjang jelas dibantah oleh Anthony Giddens. Salah satu gugatannya atas logika saintifik kuno tersebut ketika modernitas dianggap tidak memiliki “akar” sejarah dimanapun, sebuah diskontinuitas. Giddens beralasan bahwa modernitas membentuk tatanan kehidupan yang tidak pernah ada dari dan di jaman-jaman sebelumnya, sebuah tatanan kehidupan yang baru namun kosong.

“Keberhasilan” proyek modernitas tersebut tidak lepas dari kecepatan dan cakupan perubahan yang dibuatnya dalam tingkatan yang ekstrem. Menelusur kesetiap belahan bumi tidak kenal waktu dan tempat, semua dilahap. Ruang dan waktu dimampatkan dalam belenggu kasih sayang teknologi. Dunia seakan-akan bola kecil yang dengan serampangan digelindingkan kemana saja sesukanya. Institusi modern tidak ubahnya sebagai alat untuk menyebar-luaskan proyek pendisiplinan dari modernitas. Alhasil, modernitas berhasil melucuti dan membenamkan sejarah untuk kemudian menjadikan dirinya pemenang tunggal yang cukup vulgar.

Bentuk sarkasme yang tajam diperlihatkan Ikhwanuddin secara spesifik pada bidang arsitektur. Diringkas menjadi 3 tiga bagian. Bagain pertama diawali dengan No where. Menjelaskan bahwa kebanyakan bangunan gedung dimasa sekarang tidak bisa dilacak representasinya. Tidakpula jelas dimana lokasi dan letaknya. Hal itu sangat berkaitan erat dengan bentuk gedung yang mirip dan tanpa karakter disemua belahan bumi. Semuanya sama, semuanya kotak-kotak, tidak ubahnya seperti “peti mati”. Hasilnya adalah pencemaran di kota-kota besar didunia. Kota menjadi “keruh” dan kehilangan identitasnya, juga kaku dan membosankan.

Sejalan dengan argumen diskontinuitas modernitas milik Giddens, kritik yang kedua adalah No Memory. Sebuah arsitektur yang dengan sengaja ingin membebaskan dirinya sendiri. Tanpa keterkaitan dengan masa lalu dan keseluruhan kondisi dari sejarah. Arsitektur modern pada akhirnya hanya teralienasi dalam keterasingan ruang hampa yang tanpa konteks.

Penolakan arsitektur modern pada sejarah terlihat jelas pada usaha penghilangan ornamen bangunan disetiap gedung bangunan. Ornamen-ornamen anggun yang dilambangkan sebagai “mahkota” bangunan dijaman dulu dianggapnya sebagai pemborosan dan sebuah karya yang tidak penting. Berpijak pada logika fungsionalisme dan rasionalitas industrial yang mengedepankan efisiensi dan efektifitas, arsitektur bergaya modern mengedepankan sebuah “kejujuran”. Yang mana kejujuran tersebut didefinisikan sebagai sebuah “fungsi”. Jadi yang jujur adalah yang memiliki fungsi secara nyata dan terasa. Ornamen-ornamen bangunan dianggap tidak memiliki fungsi yang lebih nyata dari fungsi estetika. Sehingga harus dipentalkan dari rancangan bangunan modern.

Yang terakhir adalah No Rich Content. Charles Jenks mengungkapkan kritiknya pada arsitektur modern sebagai sebuah bangunan yang miskin makna (content). Kemiskinan tersebut diakibatkan oleh bentuk arsitektur yang “bisu”. Tidak bisa berkata apa-apa untuk menerangkan dirinya sendiri. Penyebab kemiskinan yang kedua dituduhkan pada tujuan pembangunan gedung yang tidak memiliki tujuan sosial bagi manusia. Rentetan raut wajah dari bangunan modernitas hanyalah sebuah univalensi[8] formal. Terlalu berhaluan pada fungsionalisme dengan sudut-sudut tajam 90 derajat, serta miskin ornamen.

Tujuan sosial dari pembangunan arsitektur lebih pada aktualisasi pemikiran manusia pada pengalaman merupanya. Sama dengan konsep yang ditawarkan dengan kajian “penerjemahan” dari bidang Antopologi, Proxemics. Bersosial bukan berarti hanya membahas hubungan antar manusia saja. Namun juga perhatiannya pada aspek manusia dengan konteks lingkungan, seperti kondisi iklim dan geografis. Arsitektur modern menunjukan kegagalan pada hubungannya dengan kondisi lingkungan. Kaca-kaca yang menghiasi menyerupai dinding di gedung pencakar langit dan fondasi yang menusuk berlebihan kedalam tanah merupakan contohnya. Akibatnya tak lain adalah efek rumah kaca yang tinggi, karena kaca tidak menyerap panas hingga membutuhkan pendingin ruangan yang banyak dalam setiap gedungnya. Monopoli air tanah dan kerusakan pendauran ulang unsur hara didalam tanah juga ikut berpartisipasi menjadi pemantik kegagalan arsitektur modern. Keduanya mengakibatkan gedung-gedung dijaman ini sangat miskin makna, bahkan secara radikal bisa dikatakan tidak memiliki makna sama sekali.

Sebagai penutup, dunia arsitektur merupakan sebuah ilmu yang seharusnya menjadi bagian dari masyarakat. Bahkan tidak memiliki jarak seinchi pun, karenanya manusia dapat bertahan hidup dan menjadikannya sebagai peraduan sehari-hari. Kebobrokan arsitektur modern merupakan sebuah bencana yang cukup ironis. Jarak mulai muncul dan bergandengan dengan kejauhan. Batas-batas nilai kemanusiawian mulai dibawanya pada tepian jurang yang nihil. Mau tak mau, “dongeng” panjang ini hanya menjadi candu semata. Sebuah obat penenang sesaat bagi manusia yang digilas Juggernaut[9] modernitas.

Daftar Pustaka

Giddens, Anthony. 2005. Konsekuensi-Konsekuensi Modernitas (terj). Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Hardiman, F. Budi (ed). 2010. Ruang Publik: Melacak Partisipasi Demokratis dari Polis sampai Cyberspace. Yogyakarta: Kanisius.

Ikhwanuddin. 2005. Menggali Pemikiran Postmodernisme dalam Arsitektur. Yogyakarta: UGM Press.

Kuntowijoyo. 2008. Penjelasan Sejarah. Yogyakata: Tiara Wacana.

Mangunwijaya, Y.B. 2013. Wastu Citra: Pengantar ke Ilmu Budaya Bentuk Arsitektur, Sendi-Sendi Filsafat Beserta Contoh Praktisnya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sopandi, Setiadi. 2013. Sejarah Arsitektur: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sumalyo, Yulianto. 2005. Arsitektur Modern Akhir Abad XIX dan Abad XX. Yogyakarta: UGM Press.

Tjahyono, Gunawan. 2002. Indonesian Heritage: Arsitektur. Jakarta: Buku Antar Bangsa

[1] Artikel ini dimuat dalam harian Kedaulatan Rakyat pada tanggal 9 Oktober 2014

[2] Pagupon merupakan bahasa jawa, yang berarti kandang burung Dara.

[3] Seorang akademisi dari jurusan Arkeologi di Universitas Indonesia

[4] Merupakan gaya arsitektural yang berkembang sejak abad ke-6 masehi. Gaya arsitektur ini identik dengan elemen kubah dan denah yang terpusat. Gaya Arsitektur ini sangat identik dengan tempat peribadatan seperti Gereja di Eropa dan Masjid di daerah Timur Tengah. Arsitek yang menginisiasi gaya ini adalah Anthemius dari Tralles (474–558 Masehi)

[5] Masing-masing merupakan dosen Jurusan Arsitektur di Institut Teknologi Bandung dan Universitas Katholik Parahyangan

[6] Akademisi dari jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan

[7] Sebuah kajian dari disiplin ilmu Antropologi yang diperkenalkan oleh Edward T. Hall pada tahun 1966

[8] Sebuah konsep yang diperkenalkan Charles Jenks sebagai aspek umum yang mendasari penciptaan sebuah karya arsitektur.

[9] Merupakan sebuah Tank perang raksasa yang dianalogikan Anthony Giddens sebagai wujud dari modernitas. Mampu menggilas setiap apapun yang dilaluinya tanpa pandang bulu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here